Loading...

Kamis, 10 Maret 2011

SISTEM PENDIDIKAN DI HAMBURG – JERMAN

Sebagai negara maju di Eropa, Jerman memiliki sisem pendidikan yang berbeda dengan beberapa negara lainnya. Begitu juga di wilayah bagian (16 wilayah bagian di seluruh Jerman) Republik Federal Jerman (RFJ), mengatur masalah pendidikannya sendiri-sendiri. Perbedaan masing-masing bagian tersebut tidak terlalu besar, namun secara umum hampir seluruh wilayah RJF memiliki tingkat pendidikan yang sama, yaitu taman kanak-kanak (Kindergarden), sekolah umum yang terdiri dari sekolah dasar (Grundschule) , sekolah menengah (Hauptschule), sekolah menengah plus (Realschule), sekolah menengah umum (Gymnasium), sekolah khusus (Sonderschule), sekolah gabungan (Gesamtschule), sekolah menengah kejuruan (Berufschule), dan sekolah privat (Privatschule). Bagi  yang menamatkan sekolah menengah atas (Gymnasium) dapat melanjutkan ke perguruan tinggi atau ke universitas  (Universität). Berikut dijelaskan sistem pendidikan di wilayah Hamburg, satu dari tiga kota khusus yang menjadi negara bagian di Jerman (Berlin, Bremen, dan Hamburg). Sistem pendidikannnya tidak jauh berbeda dengan 16 negara bagian lainnya di selurauh Jerman.

Apabila anak telah berumur 6 tahun dan telah direkomendasi oleh kepala sekolah taman-kanak-kanak (Kindergarten), dapat masuk ke sekolah dasar (Grundschule) yang ditempuh anak selama 4 tahun. Selama 4 tahun tersebut anak diamati oleh gurunya ke sekolah umum mana setiap anak akan melanjutkan. Apabila prestasi anak rendah maka direkomendasi masuk ke sekolah menengah (Hauptschule), prestasi mencukupi ke sekolah menengah kejuruan plus (Realschule), dan yang berprestasi baik ke sekolah menengah umum (Gymnasium). Hauptschule dan Realschule berlangsung sampai kelas 10, sedangkan Gymnasium berlangsung sampai kelas 13, namun sekarang akan diusulkan sampai kelas 12 saja agar sama dengan masa sekolah anak di negara lain 12 tahun saja sejak dari sekolah dasar. Perbedaan ketiga jenis sekolah umum tersebut, menandakan bahwa di Jerman anak yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi adalah yang mempunyai prestasi atau tingkat kecerdasan (IQ) yang baik pula yakni tamatan Gymnasium, sedangkan prestasi yang kurang akan disiapkan untuk menjadi tukang, kerja bengkel, bangunan, dan sejenisnya melalui sekolah Hauptschule. Bagi mereka yang prestasinya mencukupi atau lumayan, disiapkan di sekolah menengah plus Realschule yang setamat dari sana akan dapat bekerja di bank, pegawai pemerintah, asuransi, dsb. Jadi anak yang tamat dari Gymnasium dapat memilih kuliah di perguruan tinggi sesuai minat dan keinginannya tanpa melalui testing masuk. Arbitur atau nilai dari ijazah mereka sudah dapat digunakan sebagai dasar penerimaan di universitas.

Sekolah khusus atau Sonderschule adalah sekolah untuk anak cacat, sedangkan sekolah atau kelas gabungan (Gesamtschule) diperuntukkan bagi anak yang akan pindah dari Realschule ke Gymnasium atau sebaliknya dari Gymnasium ke Realschule. Sekolah atau kelas ini berlangsung dari kelas 5 sampai kelas 13 juga tapi perhatian khusus diberikan sesuai dengan prestasi anak, baik dari Realschule maupun dari Gymnasium. Artinya selama dari kelas 5 sampai ke kelas 13 anak akan diperhatikan prestasinya, apakah dapat bertahan di Gymnasium atau di Realschule. Gesamtschule ini bergabung di satu sekolah Gymnasium atau di Realschule. Berrufschule atau sekolah kejuruan muridnya dapat diterima dari Hauptschule, dari Realschule, maupun dari Gymnasium. Jadi bila anak tamat dari Gymnasium tidak ingin kuliah, mereka dapat masuk Berrufschule dengan memilih bidang-bidang ketrampilan yang diminatinya. Berrufchule ini berlangsung selama 2,5 atau 3 tahun yang menghasilkan tenaga siap pakai, seperti politeknik di Indonesia. Privatschule didirikan oleh lembaga-lembaga kursus yang telah mendapat izin dari pemerintah. Di sekolah privat ini dipungut uang sekolah sedangkan di sekolah-sekolah umum lainnya seperti tersebut di atas dibebaskan dari iyuran apapun karena sudah menjadi sekolah negeri atau sekolah pemerintah di Jerman. Sekolah swasta tidak diizinkan kecuali Privatschule.

Di negara RFJ (Republik Federal Jerman) tidak dikenal adanya ujian nasional. Setiap wilayah bagian dapat mengatur kurikulum dan ujian masing-masing. Tetapi untuk menyamakan kualitas, mentri-mentri pendidikan dan kebudayaan masing-masing wilayah membentuk organisasi dan konferensi pendidikan dan kebudayaan yang dikenal dengan KMK (Kultus Minister Konferenz). Walaupun ada wilayah yang berbeda dalam menetapkan lama belajar di sekolah dasar, ada yang sampai kelas 5 dan 6, namun kelas tersebut disebut dengan kelas orientasi. Kelas ini berguna untuk melihat lebih teliti siapa anak yang akan melanjutkan ke Hauptschule, ke Realschule, dan siapa yang dapat melanjutkan ke Gymnasium. Namun secara umum sebagian besar di semua wilayah Jerman menempuh masa belajar sekolah dasar (Grundschule) selama 4 tahun. Jadi pada umur 10 tahun murid sudah dapat dikategorikan berdasarkan prestasi, bakat atau kecerdasannya yang diamati sungguh-sungguh oleh guru yang sama selama 4 tahun beserta masukan dari orang tua masing-masing. Dalam hal letak sekolah dasar kadang menyatu dengan sekolah menengah. Dengan demikian pantauan terhadap kelanjutan prestasi anak dapat dilakukan bersama oleh guru sekolah dengan dengan guru sekolah menengah. Sistem pengelompokan jenis sekolah umum ini tentu ada positif dan negatifnya dalam mengamati dan menentukan masa depan seorang murid di Jerman. Tetapi sebagai negara yang paling maju di Eropa, Jerman sudah membuktikan bahwa sistem seperti ini sangat efektif untuk kemajuan Jerman di berbagai bidang.

Keberadaan sekolah umum diatur oleh pemerintahan wilayah setempat. Lokasi sekolah hampir ada pada setiap areal tempat tinggal masyarakat. Jadi setiap siswa akan bersekolah di sekolah yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Fasilitas dan mutu setiap sekolah tidak terdapat perbedaan antara sekolah menengah. Orang tua dan siswa tidak perlu memilih-milih sekolah. Semua sudah diatur oleh perundang-undangan dan data tempat tinggal warga lengkap tercatat di kantor pemerintahan setempat seperti di kelurahan. Lain halnya dengan pendidikan tinggi. Karena tamatan sekolah menengah sudah cukup umur untuk bebas memilih perguruan tinggi yang diinginkannya, maka tidak terdapat peraturan rayonisasi. Sebagian besar para mahasiswa tidak tinggal di rumah orang tua lagi. Mereka diberi kelonggaran oleh pemerintah untuk mengajukan permintaan  tempat tinggal, baik kamar, asrama mahasiswa,  ataupun apartemen. Selain itu mereka juga diberi surat keterangan perlu pekerjaan (arbeit) dari pemerintah. Hampir 90 persen mahasiswa di Jerman bekerja sambilan (part time job) guna memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga banyak mahasiswa yang tidak dapat menyelesaikan studinya tepat waktu. Tamatan sekolah menengah umum yang ingin bekerja dulu untuk beberapa tahun, mereka dapat mengajukan surat berhenti kerja dengan alasan berkuliah. Apabila mereka telah menamatkan kuliahnya, bila pekerjaan yang lama masih relevan dengan ilmu yang telah diperoleh, mereka dapat kembali bekerja kembali. Tetapi bila mereka ingin mengajukan lamaran ke tempat lain juga tidak tertutup kemungkinan.

Mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi adalah hak setiap warga Jerman. Oleh karena itu untuk berkuliah di perguruan tinggi tidak dibatasi umur. Banyak orang yang telah lama bekerja, kemudian ingin kuliah maka permohonan lamaran dapat diajukan ke perguruan tinggi yang mereka inginkan. Selain itu mereka juga dapat mengajukan surat bebas iyuran pembayaran di perguruan tinggi yang diinginkannya karena alasan tidak bekerja dan sudah cukup umur dan mereka hanya dikenakan biaya administrasi saja. Dengan demikian tidak heran akan dijumpai mahasiswa yang berumur 40-an atau 50-an tahun (pendidikan jalur kedua) yang belajar di perguruan tinggi negeri di Jerman.

Persatuan mentri pendidikan di setiap wilayah bagian, selain mengurus masalah pendidikan dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sampai sekolah menengah, juga mengurusi sistem pendidikan di pendidikan tinggi. Misalnya masalah akreditasi jurusan, pembentukan jurusan baru, program bacelor dan master. Di Jerman dan sama halnya dengan negara-negara Eropa lainnya tidak mengenal sistem Strata 1, Strata 2, maupun Strata 3. Di Universitas hanya ada Program Bacelor, Program Master, dan Program Doktor. Program bacelor dapat ditempuh oleh mahasiswa selama 6 sampai 8 semester.

Secara umum di setiap wilayah bagian di Jerman terdapat kesamaan beberapa jenis perguruan tinggi, di antaranya adalah universitas (Universität), universitas teknik (Techniche Universität), politeknik plus (Fachhochschule), sekolah tinggi seni (Kunsthochschule), sekolah tinggi olah raga (sporthochscule), sekolah tinggi musik (musikhochshucle), akademi tenaga kerja (berufsakademie), dan akademi administrasi negara (verwaltungsakademie). Pendidikan tinggi di antara wilayah bagian yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan hanya dalam soal uang studi (Studiengebürg), sekitar € 300 - € 500, tapi ada pula di beberapa wilayah bagian tidak dipungut sama sekali uang studi, kecuali uang administrasi, uang transportasi, dan uang asrama bagi yang tinggal di asrama mahasiswa. Perguruan tinggi privat atau swasta di seluruh Jerman memungut uang studi yang izin dan jumlahnya sudah diatur dasar hukumnya oleh undang-undang di setiap wilayah bagian. Jadi walaupun privat, segala keputusan dan peraturan harus berdasarkan perundang-undangnan yang telah ditetapkan oleh wewenang pemerintah federal.

Setiap wilayah bagian dapat menetapkan undang-undang selama belum ditetapkan oleh pemerintah pusat. Hak dalam bidang pendidikan secara otonom dapat diatur antara lain mengenai pendidikan sekolah, pendidikan tinggi, pendidikan kejuruan, dan pendidikan lanjutan di luar sekolah. Begitu juga dengan masalah administrasi keuangan, penggajian pegawai, dsb., dapat diatur oleh pemerintah di setiap wilayah bagian atau negara federal setempat. Kecuali hal-hal yang menyangkut kurikulum pendidikan, kualitas atau mutu pendidikan di segala bidang,  dan fasilitas pendidikan harus berpedoman kepada perundang-undangan dari pemerintah pusat.

Demikianlah sistem pendidikan secara umum di Jerman. Walaupun negara federal dengan perundanga-undangan yang otonom di setiap wilayah negara bagian, namun kesamaan dari segi mutu atau kualitas, fasilitas, kurikulum, dan pembagian wewenang yang diatur dari rapat bersama melalui konferensi para mentri pendidikan antarnegara bagian tatap terjamin. Hal yang sifatnya untuk peningkatan penelitian sain dan teknologi tetap menjadi weweang pemerintah pusat sehingga menjadikan Jerman sebagai negara yang terpandang di dunia internasional dalam hal kemajuan ilmu dan teknologinya.  Jerman yang tetap mempertahankan bahasa Jerman sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, tetapi banyak bangsa lain yang belajar ke Jerman. Negara ini telah lama membuktikan bahwa melalui penguasaan bahasa Jerman mereka tetap terkemuka sebagai negara maju di Eropa khususnya dan dunia umumnya. Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, dan beberapa bahasa Eropa lainnya seperti Prancis dan Rusia sebagai pilihan minor di sekolah umum, tidak membuat Jerman tertinggal walaupun di Jerman tidak mengenal sekolah internasional yang dikelola oleh pemerintahnya. Sebaliknya kita di Indonesia yang masih negara berkembang, justru sudah mempunyai sekolah internasional, tetapi gurunya dikarbit menggunakan bahasa Inggris. Mungkinkah transfer ilmu pengetahuan dapat diperoleh anak secara maksimal? Apakah bahasa Indonesia tidak lagi dapat digunakan sebagai bahasa dalam mentrasfer ilmu pengetahuan, khususnya sain? Hal ini dapat menjadi pemikiran kita bersama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar